Kamis, 03 Mei 2018

Surabaya, 03 Mei 2018

Aku mengingat bagaimana kala pertama saat-sat itu masih terasa manis. Aku mengingat bagaimana ku berikan sebagalnya untuknya, aku pun teringat bagaimana ia melakukan segala hal untukku, termasuk sakit itu.

Setiap hari, setiap kali, setiap saat, aku merasa dulu ia murni, ya dulu begitu terasa, tapi kini hanya rasa takut dan takut yang bergelut. Kepercayaan yang sering ku berikan sesering itu pula diabaikan.

Tujuh kali cukup rasanya menjadikanku seorang yang takut, bagaimana tidak, aku bagai menelan buah simalakama. Aku tersiksa.Segala cara ku lakukan, tapi maunya tak pernah berbatas.

Kala itu aku tak pernah menyangka aku menerima pengkhianatan itu. Ini pertama kalinya, begitu manis ia memainkan semua drama. Aku masih menaruh kepercayaan untuknya.

Hingga takdir membuatku muak dengan segala lelah dan air mata yang tak pernah memiliki harga. Aku murka, aku bagai neraka yang mendapatkan pendosanya.

Memohon, selalu begitu akhirnya, aku sering menilai bodoh wanita yang memberi kesempatan kedua untuk laki-laki yang menyakitinya, namun aku sendiri tak terhitung memberinya kesempatan yang bodoh.

Saat bosan melanda, rasa penasaran menghampiriku memaksa untuk mengujinya. Saat itu ku tau, ia masih tidak setia.

Aku tak bisa mempercayainya lagi, tapi entah mengapa aku tak bisa meninggalkannya. Aku lelah, aku ingin dia merasakan hal yang sama, namun setiap melihat sakitnya jiwaku tercambuk sebagaimana yang ia rasakan.

Aku masih merasakan ketidaksetiaan itu..